Featured

Tampilkan postingan dengan label Tentang Flores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Flores. Tampilkan semua postingan

1 MANGGARAI DAN MASA DEPAN


Mungkinkah atau tetap status quo ‘tertinggal’?
Spontan kita jawab “memungkinkan’, meskipun barangkali ada yang pesimis juga. Saya dan anda selaku orang Manggarai pasti menyetujui kalau daerah kita ini adalah daerah berpotensi untuk maju dan memiliki kesuburan seperti daerah lainnya (Jawa – Bali). Di Flores, selain Manggarai, Kabupaten Ngada dan Ende juga termasuk, karena wilayah yang berpegunungan dan curah hujan yang cukup.Tetapi mungkin karena ia adalah bagian dari NTT yang terkesan ‘propinsi kering dan tertinggal’, maka Manggarai termasuk kedalam status quo itu.
Tetapi Ben Mboi yang asal Manggarai itu ketika menjadi gubernur NTT pernah membuktikan kepada presiden Soeharto bahwa Manggarai itu subur sehingga berpotensial untuk menjadi daerah maju. Beliau berhasil mendatangkan presiden itu untuk panen raya gabah di persawahan Wae Reca di Borong, dan menengok kondisi potensi pariwisata di Labuan Bajo. Apakah setelah itu kesan ‘potensi maju’ terpatri di benak Soeharto? Tetapi rupanya upaya pembuktian Ben Mboi itu tidak mengubah kesan Soeharto untuk ‘NTT yang tertinggal, karena kesan itu masih didengar oleh Herman Musakabe ( pengganti Ben Mboi) ketika mendapat advice dari presiden itu saat menemuinya setelah pelantikan gubernurnya ( disampaikan HM saat tatap muka dengan perantau NTT di Nusa Dua saat itu). Apakah status quo daerah tertinggal memang sengaja dibiarkan demikian?
Paska Soeharto, muncul peraturan tentang otonomi daerah dimana kabupaten diberi kesempatan dan kans untuk lebih leluasa membangun daerahnya. Selain itu ditambah pula dengan keleluasaan berdemokrasi, dimana UU pemilu memberi hak kepada rakyat untuk dapat memilih langsung pemimpinnya di institusi eksekutif mulai dari Presiden sampai kepala desa ( minus Camat), termasuk hak pilih langsung wakilnya di DPR.
Pertanyaan : dengan adanya perubahan & reformasi paska Soeharto, apakah anda setuju kalau kondisi sekarang ini memungkinkan kita memperoleh Pemimpin Manggarai Masa Depan? Apakah memungkinkan kita ‘mencapai Manggarai masa depan yang maju seperti Jawa & Bali, ataukah tetap berstatus quo daerah tertinggal? Kalau memungkin, butuh berapa tahun? Apakah ada hambatan yang sangat berarti dari segi sosial budaya Manggarai? Atau apakah ‘pemimpin & Manggarai masa depan itu adalah sesuatu yg lama sekali untuk diraih? Ingat, kemajuan Manggarai yg dimaksud minimal (dalam arti terbatas/sempit) sama dengan kondisi fisik daerah maju di Jawa-Bali, al. banyak jalan beraspal yang menghubungan lokasi pasar yang satu dengan yang lain atau antar kota kecamatan atau antar obyek pariwisata. Sarana ini setidaknya sebagai tanda ‘pembongkaran pagar isolasi daerah & masyarakat tertinggal’ sehingga melancarkan arus transaksi jasa dan barang serta hal-hal lainnya. Ataukah pertanyaan2 tsb sudah ketinggalan kereta pada hari ini?
Pertanyaan2 tersebut tentu tidak memunculkan kesimpulan hawi-haol duntak sa’i deru( =benang kusut yg mentok), tetapi hawi-haol ata manga cemol’n (=solusi ) untuk meraih masa depan ‘Manggarai maju’ yang tidak terlalu lama. Ae… ai toe nganceng lako hanang koep one tana lino Manggarai hoo e…ikeng. Am toe manga benar’d curup daku situ. Am sai sili wena mai kole see. Tabe.
Sumber : John Kadis (Tokoh Manggarai)
Read more

24 SEJARAH MANGGARAI


Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis "Copa de Flores" yang berarti " Tanjung Bunga". Nama ini diberikan oleh S.M.Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores sudah dipakai hampir empat abad.


Lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.

Sejarah masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:
•    Etnis Manggarai - Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen);
•    Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio);
•    Etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang);
•    Etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah);
•    Etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).
Masyarakat Manggarai Barat merupakan bagian dari masyarakat Manggarai. Pada zaman reformasi, Manggarai mengalami perubahan, dengan melakukan pemekaran wilayah menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Perubahan ini terjadi pada tahun 2003. Pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga secara historis antara masyarakat Manggarai dan Manggarai Barat tidak dapat dipisahkan diantara keduanya.

Masyarakat Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo'o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya.
 
Manggarai (termasuk Manggarai Barat) Sampai Abad XIX
 
Seperti daerah lain di NTT, Manggarai juga mendapat pengaruh pengembaraan dari orang-orang dari seberang, seperti Cina, Jawa, Bugis, Makasar, Belanda dan sebagainya.
 
Cina
Pengaruh Cina cukup kuat dan merata di seluruh propinsi NTT. Di Manggarai, pengaruh Cina dibuktikan dengan ditemukannya barang-barang Cina seperti guci, cermin, perunggu, uang cina dan sebagainya. Pengaruh Cina dimulai sejak awal masehi. Dari benda-benda yang ditemukan di Warloka terdapat sejumlah benda antik dari Dinasti Sung dan Ming, dibuat antara tahun 960 sampai tahun 1644.

Jawa
Pengaruh Jawa terutama berlangsung pada masa Hindu. Di Timo, pada tahun 1225 telah ada utusan dari Jawa. Diberbagai daerah di NTT ditemukan mitos mengenai Madjapahit. Sedangkan di Manggarai, label Jawa jadi toponimi di beberapa tempat, seperti Benteng Jawa.
 
Bugis, Makasar, Bima.
Pengaruh Bugis, Makasar di NTT termasuk luas, di Flores, Solor, Lembata, Alor dan Pantar.
Kesultanan Goa. Sekitar tahun 1666, orang-orang Makasar, Sultan Goa, tidak hanya menguasai Flores Barat bagian selatan, tetapi juga seluruh Manggarai. Mereka menyetorkan upeti / pajak ke Sultan Goa. Kesultanan Goa berjaya di Flores sekitar tahun 1613 –1640. Pengaruh Goa nampak diantaranya pada budaya baju bodo dan pengistilahan Dewa Tertinggi Mori Kraeng. Dalam peristilahan harian, kata Kraeng dikenakan bagi para ningrat. Istilah tersebut mengingatkan gelar Kraeng atau Daeng dari gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan.

Kesultanan Bima. Pada tahun 1722, Sultan Goa dan Bima berunding. Hasil perundingan, daerah Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Sementara itu, di Manggarai muncul pertentangan antara Cibal dan Todo. Tak pelak, meletus pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot, yang dimenangkan Cibal. Pertentangan antara Cibal dan Todo, kemudian melahirkan Perang Weol I, Perang Weol II dan Perang Bea Loli (Wudi). Perang Weol Ikemenangan di pihak Cibal. Tetapi dalam perang Weol II dan Perang Bea Loli, Cibal mengalami kekalahan. Bima saat itu membantu Todo. Kenyataan ini mengkokohkan posisi Bima di Manggarai, hingga masuknya pengaruh ekspedisi Belanda pertama tahun 1850 dan ekspedisi kedua tahun 1890 dibawah pimpinan Meerburg. Ekspedisi yang terakhir pada tahun 1905 dibawah Pimpinan H.Christofel. Kehadiran Belanda di Manggarai, membuahkan perlawanan sengit antara Belanda dan rakyat Manggarai di bawah Pimpinan Guru Amenumpang yang bergelar Motang Rua tahun 1907 dan 1908. Namun sebelum menghadapi perlawanan Motang Rua, Belanda mendapat perlawanan dari Kraeng Tampong yang akhirnya tewas ditembak Belanda dan dikuburkan di Compang Mano.
 
Selain Kesultanan Goa dan Bima,
Kerajaan lain yang pernah berkuasa di Manggarai adalah Kerajaan Cibal, Kerajaan Lambaleda, Kerajaan Todo, Kerajaan Tana Dena dan Kerajaan Bajo. Pada saat ini bukti serajah tentang kerajaan tersebut yang masih tersisa adalah Kerajaan Todo, walaupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Referensi tentang penelusuran tentang kerajaan-kerajaan Manggarai sulit untuk didapatkan.

Belanda.
Pengaruh Belanda ada sejak adanya 3 kali ekspedisi Belanda ke Manggarai, yaitu tahun 1850,1890, dan tahun 1905. Pengaruh Belanda di Manggarai terutama pada didirikannya sekolah-sekolah dan agama Katolik.


Read more

1 MANGGARAI...AMAZING CULTURE


Masyarakat Manggarai memiliki corak yang unik, yang bisa dilihat dari pola hubungan social yang berpusat pada Wa’u (klien patrilinier) dan golo (kampong). Setiap Wa’u pasti mempunya Golo yang dipimpin oleh seorang Tu’a Golo. Yakni pemimpin dalam system hokum adat yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan seluruh warga Golo.

Beo atau Golo dengan Lingko (kebun komunal) untuk orang asli Manggarai adalah dua hal yang tak terpisahkan yang diungkapkan dengan istilah Gendang one lingko peang, yang berarti adanya lingko karena adanya gendang sebagai symbol otonomi kekeuasan golo.
Disini bias digambarkan bahwa pola hubungan antara gendang dengan lingko merupakan pola hubungan antara suami istri. Gendang sebagai symbol suami dan lingko sebagai symbol istri. Pola Gendangn one lingko peang merupakan warisan budaya yang dikenal ampuh dalam menyelesaikan konflik dalam kehidupan masyarakat Manggarai. Solidatridas golo dan wa’u sering dipakai ketika terjadi konflik.
Kehidupan orang Manggarai sejak jaman nenek moyang dulu, senantias diwarnai pesan-pesan bernuansa filosofis, baik hal-hal yang berada dalam dunia nyata mupun yang berada di dunia cita-cita. Dua sumber tata kehidupan orang Manggarai sejak dahulu adalah kesadaran tentang apa adanya dan bagaimana seharusnya.
Kedua sumber tersebut diwujudkan secara nyata dalam logo rumah adat yang terdapat di setiap kampong. Terutama pad rumah gendang (Mbaru tembong). Sebuah rumah adat di Manggarai , lazimnya dibangun dengan menggunakan konstruksi baku untuk menggambarkan pesan-pesan atau arti simbolik di balik itu. Pada puncak bubung rumah adat terdapat tiga symbol utama, yakni periuk persembahan, Tanduk Kerbau, dan atap ijuk berbentuk bulat.
Periuk persembahan melambangkan nilai religiusitas, yakni keyakinan sekaligus pemghormatan kepada Tuhan yang menjadikan (mori jari dedek, tanan wa awangin eta, pukul parn agu kolep, ulun le wain lau- Tuhan pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Tuhan pencipta dan pembentuk kehidupan manusia dan segala mahluk dan segla alam raya). Sekaligus untuk roh-roh yang mengganggu kehidupan manusia.
Sejak jaman nenek moyang dulu orang Manggarai meyakini bahwa Mori Jari Dedek senantiasa ada,. Tetapi Ia tidak dapat diliht oleh manusia. Karena itu Mori Jari dedek harus senantiasa disembah, diberi makan supaya tidak marah kepada manusia. Sehingga manusia bias selamat dan tenteram. Karena diyakini Mori Jari dedek tinggal di tempat yang tertinggi, maka puncak bubungan rumah itulah tempat persembahannya.
Selain percaya bahwa Tuhan-lah sebagai yang tertinggi. Masyarakat daerah ini meyakini adanya roh jahat (dalam bahasa setempat disebut potiwolo, kaka tana).
Sedangkan tanduk Kerbau mengajarkan nilai kemanusiaan, yakni kemanusiaan bermakna cita-cita agar keturunan kuat seperti kerbau dan suka bekerja keras. Selain itu Tanduk Kerbau memiliki makna simbolis yakni bahwa hewan ini sangat erat hubungannya dengan orang Manggarai sebagai pembantu tenaga kerja unutk membajak sawah maupun membantu untuk memikul beban serta hewan yang dipakai sebagai jaminan dalam membayar mas kawin (belis).
Atap ijuk dalam bentuk bulatan melambangkan nilai persatuan dan kesatuan yang kukuh. Niali tersebut mengakar kuat dlam masyarakat Manggarai. Saya sendiri yang sudah bertahun-tahun menetap di Manggarai meraskan bagaimana persatuan dalam kehidupan masyarakat Manggarai sangat terasa.
Kehidupan masyarakat Manggarai sangat erat kaitannya dengan bergai upacara-upacara adat. Upacara adat selalu dipimpin lembaga adat, baik Tua Golo, Tua Tembong maupun Tuan Teno bahkan ata Mbeko (orang pintar atau dukun untuk mengusir roh-roh jahat).
Upacara tersebut terdiri atas:
1. Upacara Kehamilan. Disini dikenal dengan upacara Lamba Wekas , yakni upacara yang dibuat ditengah jalanwaktu menuju ke kebun, dan dengan sebatang gelagah di tangan sang ibu meminta kepada Tuhan agar menkaga keselamatan sang janin, dan dijauhkan dari semua roh jahat yang bias mengganggu ibu hamil. Masih dalam siklus upacara ini, ada acara tujuh bulanan dan upacara simo leas (pemulihan karena keguguran). Yang disebut terakhir ini dilakukan untuk memohon kepada Mori Jari Dedek dan roh-roh nenek moyang agar kesehatan jasmani sang ibu cepat pulih dan tidak terjadi lagi keguguran.
2. Upacara melahirkan (loas, lada meka weru, ciang tana). Dilakukan beberapa hari menjelang ibu melahirkan. Si ibu diberikan ramuan tradisional berupa oucuk waru atau kulit kayu lodong yang direndam dalam air minum unutk diminum setiap pagi sampai hari melahirkan tiba. Agar proses persalinan menjadi lancer.
3. Upacara pemberian nama. (cear cumpe). Setelah melahirkan, menyusul pula cear cumpeng, yakni upacara syukur sekaligus pemberian nama unutk sang bayi, dan mohon doa restu agar bayi hidup sehat dan tidak cacat mental. Upcara ini menggunakan ayam jantan putih sebagai hewan persembahan.
4. Upacara potong gigi. Upacara ini sebagai pratanda bahwa yang bersangkutan telah menginjak remaja. Bahkan sudah memasiki usian yang sudah dianggap bias untuk melakukan pernikahan. Namun upacara ini sudah lama menghilang.
5. Upacara meminang (weda rewa tuke mbaru). Pertemuan resmi antra keluarga pria dan wanita untuk melakukan perundingan melalui juru bicara (tongka). Apabila ada kesempatan antara kedua belah pihak maka menjadi jelas hak dan kewajiban masing-masing yang selanjutnya dilakukan upacara tudak mbukut, yakni upacara pengikat keputusan dengan menyerahkan seekor hewan dri keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki. Yang dibalas dengan penyerahan seekor hewan dari keluarga laki-laki.
6. Upacara perkawinan adat (Nempung) yakni lanjutan upacara meminangdimana semua keputusan saat meminang harus dibawah pada upacara nempung antara lain penyerahan tuak curu (minuman tuak) keti riket (tanggal jatuh tempo) pembayaran belis dan hewan sembelihan.
7. Upacara kematian. Upacara ini meliputi upacara haeng nai (tanda kehadiran saat penghembusan napas terakhir); cingke tahang (membelah kapur sirih khusus untuk seorang yang meninggal tak wajar), tokong mbakung (jaga mayat); ici muu (isi mulut oleh anak sulung dengan uang logam sebagai tanda kasih saying terhadap almarhum atau almarhumah).
So guys…sebenarnya masih banyak sekali adat dari masyarakat Manggarai yang unik dan sampe sekarang masih dipegang teguh….sistem kekerabatan dalam masyarakat Manggarai sangat kental suasananya…Memang Indonesia itu indah dengan kebudayaan yang beraneka ragam…


Read more

0 MASYARAKAT FLORES


1. Pengantar
Pertanyaan utama yang menggelitik rasa ingin tahu saya ketika menerima topik sarasehan ini adalah, untuk apa menggali ‘rasa religiositas’ sebuah kelompok etnis? Apa sesungguhnya relevansi dan urgensinya? Jawaban atas pertanyaan ini –yang akan diberikan di bagian pengantar ini-- penting sebagai dasar bagi pembahasan selanjutnya.
Beberapa ahli filsafat kebudayaan, seperti Zoetmulder, Driyarkara, Mangunwijaya, Dick Hartoko (dalam Taum, 1997a: 3) mengungkapkan bahwa awal mula segala ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah rasa religiositas. Dengan kata lain, keinginan untuk memuja Sang Pencipta mendorong terbentuknya kebudayaan setiap etnis. Karena itu, menurut saya, memahami 'rasa religiositas' dari sebuah kelompok etnik merupakan kunci memahami kebudayaan etnis tersebut, karena kebudayaan pada awalnya diabdikan untuk mengungkapkan rasa religiositas tersebut.

Dengan memasukkan faktor budaya dalam upaya menuju ke inkulturisasi (musik) liturgi, berarti ada pengakuan yang lebih tegas dan eksplisit mengenai fungsi budaya. Menurut para ahli kebudayaan seperti Galtung (dalam Taum, 1994a), kebudayaan memainkan peranan yang sangat menentukan dalam pergerakan sosial besar yang mengubah masyarakat. Menurut saya, hal itu berlaku pula dalam hal religi, yakni jika kita mau 'mengubah' masyarakat menuju ke semangat Injil yang (lebih) benar.
Untuk mencapai tujuan itu, makalah ini akan membahas lima aspek, yakni: pengantar memahami masyarakat Flores, agama-agama asli di Flores, keutamaan-keutamaan orang Flores, catatan ringkas tentang rasa musikal orang Flkores, dan akan diakhiri dengan catatan tentang inkulturasi musik di Flores.
2. Sekilas Masyarakat Flores
Pengantar ke dalam masyarakat Flores ini dimaksudkan untuk menjelaskan secara singkat bagaimana konteks nyata masyarakat Flores. Penjelasan ini akan mencakup dua hal yakni sejarah, lingkungan dan masyarakat Flores.

2.1 Sejarah Flores
Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis "Cabo de Flores" yang berarti "Tanjung Bunga". Nama ini semula diberikan oleh S. M. Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubenur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan Flora yang dikandung oleh pulau ini. Karena itu, lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa (yang artinya Pulau Ular). Dari sudut Antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakat Flores.
Pulau Flores, Alor dan Pantar merupakan lanjutan dari rangkaian Sunda System yang bergunung api. Flores memiliki musim penghujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang. Daerah Pulau Flores meliputi enam kabupaten, yakni Kabupaten Manggarai, Ngadha, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata.

2.2. Lingkungan dan Masyarakat Flores
Sejarah kependudukan masyarakat Flores menunjukkan bahwa Pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnik yang hidup dalam komunitas-komunitas yang hampir-hampir eksklusif sifatnya. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Heterogenitas penduduk Flores terlihat dalam sejarah asal-usul, suku, bahasa, filsafat dan pandangan dunia.
Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, ada enam sub-kelompok etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996). Keenam sub-kelompok etnis itu adalah: etnis Manggarai-Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen). Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio. Kelompok etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang). Kelompok etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah). Terakhir kelompok bahasa Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).
Keenam kelompok etnis di Flores sesungguhnya memiliki asal-usul genealogis dan budaya yang sama.


3. Agama-agama Asli di Flores

Kristianitas, khususnya Katolik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat kota Larantuka. Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik.
Meskipun kristianitas sudah dikenal sejak permulaan abad ke-16, kehidupan keagamaan di Pulau Flores memiliki pelbagai kekhasan. Bagaimanapun, hidup beragama di Flores –sebagaimana juga di berbagai daerah lainnya di Nusantara (lihat Muskens, 1978)-- sangat diwarnai oleh unsur-unsur kultural yaitu pola tradisi asli warisan nenek-moyang. Di samping itu, unsur-unsur historis, yakni tradisi-tradisi luar yang masuk melalui para misionaris turut berperan pula dalam kehidupan masyarakat. Kedua unsur ini diberi bentuk oleh sistem kebudayaan Flores sehingga Vatter (1984: 38) menilai di beberapa tempat di Flores ada semacam percampuran yang aneh antara Kristianitas dan kekafiran.
Untuk dapat mengenal secara singkat gambaran agama-agama di Flores, Tabel 1 mendeskripsikan 'wujud tertinggi' orang Flores. Tabel itu menunjukkan bahwa orang Flores memiliki kepercayaan tradisional pada Dewa Matahari-Bulan-Bumi. Kepercayaan yang bersifat astral dan kosmologis ini berasal dari pengalaman hidup mereka yang agraris, yang hidup dari kebaikan langit (hujan) dan bumi (tanaman) (Fernandez, 1990). Lahan pertanian yang cenderung tandus membuat orang Flores sungguh-sungguh berharap pada penyelenggaraan Dewa Langit dan Dewi Bumi.


Ende/Lio
Ngadha
Manggarai Lera Wulan Tanah Ekan
Lera Wulan Tanah Ekan
Ina Niang Tana Wawa// Ama Lero Wulang Reta
Wula Leja Tana Watu
Deva zeta-Nitu zale
Mori Kraeng, bergelar: Tana wa awang eta//Ine wa ema eta Matahari-Bulan-Bumi
Matahari-Bulan-Bumi
Bumi-Matahari-Bulan

Bulan-Matahari-Bumi
Langit-Bumi
Tanah di bawah, langit di atas

Selain itu, hampir semua etnis masyarakat Flores memiliki tempat-tempat pemujaan tertentu, lengkap dengan altar pemujaannya yang melambangkan hubungan antara alam manusia dengan alam ilahi. Tabel 2 menunjukkan altar tempat upacara ritual orang Flores.


Flores Timur
Lembata
Sikka
Ende/Lio
Ngadha
Manggarai Nuba Nara
Nuba Nara
Watu Make
Watu Boo
Vatu Leva - Vatu Meze
Compang – Lodok Menhir dan Dolmen
Menhir dan Dolmen
Menhir dan Dolmen
Dolmen
Menhir dan Dolmen
Menhir

Altar yang disebutkan dalam Tabel 2 di atas merupakan tempat dilaksanakannya persembahan hewan korban dalam upacara ritual formal, misalnya: upacara panen, pembabatan hutan, pendirian rumah, perkawinan adat, dan sebagainya. Upacara ritual itu sendiri menduduki posisi penting sebagai sarana pembentukan kohesi sosial dan legitimasi status sosial. Ritus persembahan di altar tradisional itu mempengaruhi berbagai struktur dan proses sosial di Flores.

4. Beberapa Keutamaan Orang Flores: Kasus Lamaholot
4.1 Percaya kepada Tuhan yang Kuasa
Sebelum agama Katolik tiba di Flores, masyarakat di sana sudah mengenal Tuhan yang Kuasa, yang disebut ‘Lera Wulan Tanah Ekan’ atau Tuhan Langit dan Bumi. Orang Flores memiliki rasa syukur dan penyerahan diri yang begitu dalam kepada Tuhan. Untuk memperkuat kenyataan bahwa seseorang bertindak benar dan jujur, sekaligus memperingatkan lawannya, mereka berucap: "Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan": Tuhan mempunyai mata (untuk melihat), yang berarti Tuhan mengetahuinya, ia maha tahu, ia maha adil, ia akan bertindak adil. Pada peristiwa kematian, orang biasanya berkata: "Lera Wulan Tanah Ekan guti na-en": Tuhan mengambil pulang miliknya.
Pada perayaan syukur sebelum panen, ada kewajiban bagi para anggota masyarakat untuk mempersembahkan sebagian hasil panen itu sebagai tanda ucapan syukur kepada Tuhan sebelum menikmati hasil panen tersebut. Adapun doa yang didaraskan sebagai berikut:

Bapa Lera Wulan lodo hau Bapak Lera Wulan turunlah ke sini
Ema Tanah Ekan gere haka Ibu Tanah Ekan bangkitkan ke sini
Tobo tukan Duduklah di tengah
Pae bawan Hadirlah di antara kami
Ola di ehin kae (Karena) kerja ladang sudah berbuah
Here di wain kae (Karena) menyadap tuak sudah berhasil
Goong molo Makanlah terlebih dahulu
Menu wahan Minumlah mendahului kami
Nein kame mekan Barulah kami makan
Dore menu urin Barulah kami minum kemudian

4.2 Kejujuran dan Keadilan
Kepercayaan yang kuat dan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan menimbulkan nilai-nilai keutamaan lainnya yang juga dijunjung tinggi orang Flores seperti kejujuran dan keadilan. Nilai ini muncul sebagai keyakinan bahwa ‘Tuhan mempunyai mata’ (Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan) . Tuhan melihat semua perbuatan manusia, sekalipun tersembunyi. Dia menghukum yang jahat dan mengganjar yang baik.
Sifat dan tabiat kejujuran ini sangat menarik perhatian Vatter (1984: 56). Dia mencatat, hormat terhadap hak milik oang lain tertanam sangat kuat di benak orang Flores. Pencurian termasuk pelanggaran berat di Flores. Pada zaman dahulu dikenakan hukuman mati, dan saat ini pencuri dikenai sangsi adat berupa denda yang sangat besar.


4.3 Penghargaan yang Tinggi akan Adat dan Upacara Ritual
Studi Graham (1985) mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Flores Timur, ada empat aspek yang memainkan peranan penting, yaitu episode-episode dalam mitos asal-usul, dan tiga simbol ritual lainnya yakni nuba nara (altar/batu pemujaan), korke (rumah adat), dan namang (tempat menari yang biasanya terletak di halaman korke). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang Flores memiliki penghargaan yang sangat tinggi akan adat-istiadat dan upacara-upacara ritual warisan nenek-moyangnya.
Mitos cerita asal-usul dipandang sebagai unsur terpenting dalam menentukan otoritas dan kekuasaan. Melalui episode-episode dalam mitos asal-usul itulah legitimasi magis leluhur pertama dapat diperoleh. Mitos asal-usul yang sering dikeramatkan itu biasanya diceritakan kembali pada kesempatan-kesempatan ritual formal seperti membangun relasi perkawinan, upacara penguburan, terjadi sengketa tanah, persiapan perang, pembukaan ladang baru, panen, menerima tamu, dan sebagainya.
Nuba-nara atau altar/batu pemujaan merupakan simbol kehadiran Lera Wulan Tanah Ekan. Ada kepercayaan bahwa Lera Wulan turun dan bersatu dengan Tanah Ekan melalui Nuba Nara itu. Korke yang dilengkapi dengan Nama adalah "gereja" tradisional, pusat pengharapan dan penghiburan mereka.
Sangat kuat dan menonjolnya peranan devoci kepada Bunda Maria di kalangan orang Flores di satu pihak menunjukkan unsur historis (warisan zaman Portugis) tetapi sekaligus kultural (pemujaan terhadap Ibu Bumi, seperti dalam ungkapan Ama Lera Wulan-Ina Tanah Ekan).


4.4 Rasa Kesatuan Orang Flores
Ikatan kolektif yang sangat kuat dalam masyarakat Lamaholot terjadi pada tingkat kampung atau Lewo. Masyarakat Lamaholot pada umumnya memiliki keterikatan yang khas dengan Lewotanah atau tempat tinggal. Melalui ukuran kampung, mereka membedakan dirinya dengan orang dari kampung lainnya. Kampung merupakan kelompok sosial terbesar, dan kesadaran berkelompok hampir tidak melampaui batas kampung (Vatter, 1984: 72-73).
Di Flores sebetulnya tidak ada kesadaran akan persatuan yang bertopang pada pertalian genealogis, historis maupun politis. Seperti disebutkan di atas, keterikatan mereka lebih disebabkan faktor kesamaan tempat tinggal atau kampung. Sekalipun demikian, pola organisasi kampung selalu dibangun dengan semangat dan pemikiran tentang kohesi sosial yang berpangkal pada kerangka genealogis. Dalam kampung-kampuang itu tinggal orang-orang dari berbagai kelompok imigran, yang kemudian digolong-golongkan dalam suku (istilah untuk suku adalah Ama).
Itulah sebabnya orang Flores cenderung menyapa sesamanya dengan sebutan kekerabatan (Om, Tante, Kakak, Adik atau mengaku sebagai saudara). Mereka juga bisa menghargai perbedaan politis, agama, etnis bila mereka telah diikat dalam satu kesatuan tempat tinggal. Rasa kesatuan seperti ini, kadang-kadang membuat orang Flores menjadi sedikit bersifat etnosentris.


5. Catatan tentang Rasa Musikal Orang Flores
Sekalipun di Flores tidak banyak ditemukan alat-alat instrumen musik, rasa musikal orang Flores tergolong cukup istimewa. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan Max Weber, yang dikutip dari J. Kunst (1942) berikut ini.

“Of musical instruments I did not see much, although, as a matter of fact, the population of Flores seemed to me to be more musically talented than the kindred Indonesian tribes whose acquaintance I made in Sumatra, Java and Celebes, where I never heard any tolerable voices sing agreeable melodies. It was different in Flores. Many a sonorous male voice, rendering simple songs at the river bank, still sounds in my ears; melodies which might well please the European ear, too. And where is the Florinese who could paddle without singing his pantuns, complete with soli and refrain sung in chorus? Among these soloists there were some voices that might, with better training, have been turned out as good tenor, soprano and bass voices. But this hardly seems to me to apply to the treble voices of the genuine Malay people, including the Buginese and Macassarians. It would seem that we have here to do with a morphological distinction in the vocal means of expression, which may well amount to a support of my view concerning the kinship of the Florinese with tribes living further east” (p. 32).

Berikut ini terjemahan selengkapnya kutipan di atas.
“Tentang musik instrumen saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi. Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores. Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku, melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor? Di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang, dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bass yang baik. Tetapi hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makasar. Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh" (h. 32).
Orang Flores, seperti terungkap dalam kutipan di atas, memiliki bakat musikal yang sangat tinggi, khususnya dalam nyanyian koor. Sebagian (kecil) lagu-lagu Flores sudah diakomodasikan dalam liturgi dan sudah termuat dalam buku Madah Bhakti. Tetapi buku ini kurang disenangi di Flores karena kurang variatif dan terasa seperti menekan kreativitas.
Masih ada satu hal yang penting menjadi catatan. Jika orang Flores, menurut Max Weber, mempunyai bakat musikal yang sangat tinggi, pertanyaannya adalah, mengapa tidak ada orang Flores yang kemudian menonjol sebagai penyanyi nasional? Adakah kendala budaya yang menghambat pencapaian ini?
Beberapa studi (Vatter, 1984; Graham, 1985; Taum, 1997b) mengungkapkan bahwa keluarga di Flores (dalam hal ini Flores Timur) memainkan peranan yang sangat kecil dalam proses pendidikan dan sosialisasi anak. Keluarga bukan tujuan melainkan sarana bagi pembentukan kelompok sosial yang menjadi inti masyarakat dan menentukan suku. Suku itulah basis sosial terkecil dan otonom. Semua hak dan kewajiban individual diarahkan kepada kebersamaan suku. Itulah sebabnya ruang bagi ekspresi dan aktualisasi potensi pribadi menjadi lebih terbatas, sebaliknya kebersamaan menjadi lebih bernilai. Mungkin ini salah satu kendala budaya yang menghambat hal itu, di samping faktor-faktor teknis lain seperti peluang, modal, dan sebagainya.

6. Penutup: Soal Inkulturisasi
Agama Katolik hanya bisa berakar dalam kebudayaan sebuah kelompok etnis jika Katolik sudah terungkap dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan masyarakat pendukung etnis itu, dan bahkan memimpin dan mengarahkan kehidupan sosial-budaya setempat. Injil sudah harus ikut mempengaruhi, membentuk, mengarahkan, dan merasuk ke dalam sistem nilai dan sistem budaya lokal. Agama Katolik hanya akan berakar, sejauh ia mampu menginjili sistem keagamaan masyarakat. Jika tidak, Katolik akan tetap tinggal di luar.
Dalam kaitan dengan ini, maka proses inkulturisasi, bagi saya, adalah mengangkat nilai-nilai dasar dan paham-paham inti budaya kelompok etnis tertentu ke dalam interaksi dinamis dengan Kitab Suci dan tradisi gereja. Dalam interaksi ini paham-paham budaya asli akan bertemu dengan ilham esensial gereja sebagai wahyu dan konteks-konteks wahyu itu sendiri. Hal ini membutuhkan proses yang panjang, dan di sisi akademis membutuhkan studi dan diskusi yang mendalam.
Khusus dalam hal inkulturisasi musik liturgi di Flores, perlu dipahami bakat musikal orang Flores itu. Lagu-lagu yang sudah direduksi menjadi satu suara sangat membosankan orang Flores yang sudah sangat terbiasa menyanyi dalam empat suara. Untuk mendukung inkulturisasi musik liturgi di Flores, perlu diinventarisasikan lagu-lagu rakyat, ditranformasikan menjadi lagu liturgis, dan diterbitkan dalam buku nyanyian khusus dengan pola empat suara. Lagu-lagu dengan semangat dan warna musik yang sama (seperti dari daerah Minahasa, Ambon, Papua, serta dari daerah lainnya) dapat pula dilibatkan dalam buku nyanyian ini. Penggunaan alat-alat musik tradisional (misalnya gong waning di Sikka, suling bambu di Ende dan Flores Timur, orkes kampung hampir di seluruh Flores) dalam musik liturgi sungguh-sungguh menarik minat dan partisipasi umat, khususnya generasi muda Flores.
Akhirnya, semoga upaya Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta untuk menuju ke inkulturisasi musik gereja Indonesia dapat berhasil memadukan semangat kebudayaan asli dengan semangat Injil yang (lebih) benar.


Read more

0 KELIMUTU AMAZING THREE LAKE COLOUR FROM FLORES


Danau Kelimutu merupakan sebuah keajaiban dunia, dimana danau ini memiliki tiga kawah dengan warna yang berbeda-beda dan akan berganti warna biasanya tiap tahun….Inilah salah satu keajaiban dunia yang hanya terdapat di Kabupaten Ende, Pulau Flores propinsi Nusa Tenggara Timur.


Kawan Danau Kelimutu sendiri termasuk wilayah tiga kecamatan, yaitu Detusoko, Wolowaru, dan Ndona, Kabupaten Ende ketika sampai di danau Kelimutu, kita akan disuguhkan oleh pesona alam yang belum pernh kita temui, setelh menaiki ratusan anak tangga kita dapat melihat tiga buah kawah Danau dengan tiga warna yang sangat indah Itulah Gunung Kelimutu. Gunung yang memiliki tinggi 1.640 meter di atas permukaan laut (dapl) .
Ketiga danau Kelimutu ini memiliki warna air yang berbeda-beda dan berubah tiap saat. Dari warna merah menjadi hijau tua kemudian merah hati. Kadang menjadi warna cokelat kehitaman dan biru. Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter. Gunung Kelimutu meletus terakhir pada 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang airnya berwarna merah (tiwu ata polo), biru (tiwu ko'o fai nuwa muri), dan putih (tiwu ata bupu). Ketiga warna ini mulai berubah sejak 1969 saat meletusnya Gunung Iya di Ende, dan perubahan warna itu pernah serupa.UNik dan aneh, semua orang pasti akan berdecak kagum melihat pesona alam Ciptaan Tuhan ini.
Sejak 26 Februari 1992 kawasan ini ditetapkan sebgai taman nasional yang dilindungi. Kawasan ini memiliki luas 5.356,5 hektare yang meliputi wilayah tiga kecamatan, yaitu Detusoko, Wolowaru, dan Ndona, Kabupaten Ende. Namun, sejak zaman penjajahan Belanda, danau ini sudah sering dikunjungi orang. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, danau dengan air warna merah merupakan tempat berkumpulnya para arwah dari berbagai belahan bumi. Danau dengan air merah adalah tempat berkumpulnya arwah orang jahat, danau biru untuk para pemuda-pemudi, dan danau putih untuk orang tua. Para arwah akan bermukim di ketiga danau itu sesuai status sosialnya,.
Di kampung yang berjarak 13 kilometer dari Danau Kelimutu ini dibangun 20 unit homestay dan kafe sehingga wisatawan tidak perlu kuatir akan fasilitas yang disediakan karena pemerintah telah mengelola kawasan ini dengan berbagai fasilitas yang dapat mempermudah kita..untuk naik ke atas danau kita bisa menyewa kendaraan yang sudah disediakan.
Dalam Perjalanan, banyak sekali pemandangan indah yang disuguhkan, aneka satwa dan tumbuhan yang jarang dijumpai akan menyambut kita dengan kekhasannya. Memang suasana yang disuguhkan oleh kawasan ini sangat unik...sehingga banyak orang berkat kalo kita belum dikatakan mengunjungi flores kalo belum ke danau Kelimutu. Inilah salah satu keajaiban dunia yang menjadi bukti kekuasaan Tuhan.
Kita juga pasti akan merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan, baik dari segi kenyamanan dan keamanan, masyarakat Flores pada umumnya sangat ramah dalam menerima tamu. Sehingga anggapan kebanyakan orang yang memandang kalo orang Flores identik dengan Kekasaran akan sirna. Hal yang sama juga dirasakan oleh teman-teman saya yang ketika pertama menginjakkan kakinya di tanah Flores, mulanya mereka merasa takut melihat peringai wajah orang Flores yang sangar. Tapi setelah berkomunikasi bebeerapa jam, mereka merasa sangat senang, ternyata masyarakat Flores lebih ramah, sangat menghargai tamu dalam berinteraksi.
What are you waiting for? Go To East Young Man..!!!

Read more

0 KOMODO....THE DRAGON FROM EAST.


GO TO EAST YOUNG MAN!
Kalau kita menanyakan tentang seekor binatang langka yang bernama Komodo sang Naga…mungkin belum banyak dari kita yang mengetahui dimana tempatnya..Ya, Manggarai barat adalah sebuah Kabupaten yang berada di ujung barat Pulau Flores..ketika sampai di Labuan Bajo yang merupakan ibukota Manggarai Barat, Kesan daerah pariwisata akan nampak..berbagai fasilitas untuk keperluan para wisatawan sudah disediakan dan dikelola dengan professional….Sampai seorang bule ketika saya tanyakan mengenai kesan mereka dia mengatakan “It’s a little Bali”. Memang Labuan Bajo penuh dengan nuansa pariwisata..tengok saja pantainya yang berpasir putih..indah sekali, ditambah dengan gugusan pulau-pulau yang menghiasi gerbang masuk dari ujung barat Pulau Floresitu.

Ada kesan denyut kehidupan pariwisata Manggarai Barat sangat tergantung dari keberadaan satwa komodo ini. Padahal, potensi wisata yang dimiliki daerah yang baru sekitar satu setengah tahun ditetapkan sebagai kabupaten tersendiri (pemekaran Kabupaten Manggarai-red) ini sangat luar biasa. Berdasarkan data yang dipaparkan Kepala Bappeda Manggarai Barat Rafael Harhad kepada rombongan pengusaha travel agent yang dipimpin Commercial Ditertor Germania Trisila (GT) Air (maskapai penerbangan yang melayani rute Denpasar-Labuan Bajo pp-red) Jhon Lantang, kabupaten yang berlokasi di ujung barat Pulau Flores ini memiliki puluhan objek wisata dan atraksi wisata menarik. Sayang, keterbatasan kemampuan keuangan daerah memaksa objek dan atraksi wisata itu masih "menggigil kedinginan" menanti kehadiran wisatawan. Padahal, dengan sedikit saja polesan "gincu pariwisata," potensi-potensi yang ada itu sejatinya sangat layak dijual kepada wisatawan mancanegara maupun domestik. Realitasnya memang seperti itu. Objek dan atraksi wisata itu belum sepenuhnya bisa dijual kepada turis. "Objek wisata yang secara rutin dikunjungi wisatawan baru sebatas Pulau Komodo dan Pulau Rinca dengan wisata komodonya," kata Rafael Harhad bernada pasrah.
Selain Komodo, masih banyak keindahan yang dimiliki oleh Manggarai Barat. Selain didukung oleh alam yang eksotik, bentang laut dengan hamparan pasir putih yang bersih, keindahan alam bawah laut yang memukau dengan spesies terumbu karang dan ikan hiasnya, goa alam, air terjun hingga danau berkadar belereng.

Bukan hanya alam yang indah yang ada di Manggarai Barat fosil-fosil kayu yang membatu yang bisa ditemukan di sejumlah desa di Kecamatan Warloka serta bangunan benteng-benteng perang yang bisa dijumpai di sejumlah desa di Kecamatan Lembor. Manggarai Barat juga sangat tepat dikunjungi oleh para wisatawan pecinta burung.

Pulau Komodo dan Pulau Rinca, Pantai Merah dengan bentang pantainya yang berpasir merah dan taman lautnya serta pantai Lasa dan Pulau Bidadari yang juga mengandalkan keindahan taman lautnya, merupakan sebuah daya tarik tersendiri yang mungkin tidak bisa di jumpai di daerah lain.
Pengalaman teman-teman saya pada tahun 2001 ketika kami melakukan ekspedisi Flores yang tergabung dalam Pecinta Alam Mahasiswa Fakultas Ekonomi (PALMAE) ugm memiliki kesan yang indah, semua merasakan bahwa Labuan Bajo merupakan sebuah daerah yang sangat indah yang didukung oleh alamnya yang masih sangat alami..
Kami pun menjelajahi berbagai daerah pariwisata seperti potensi laut yang kami lakukan penelitian ternyata memiliki keindahan yang fantastis dan menutrut penelitian kami spesies dalam laut disini merupakan yang paling lengkap di Indonesia.
Tidak sampai disitu saja, selain mengunjungi Taman nasional Komodo, kami memasuki Gua Batu Cermin yang menjadi sebuah asset pariwisata yang fantastis..Ini merupakan Goa alam yang jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari pusat ibu kota Labuan Bajo ini ternyata menyimpan keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di dalam goa sepanjang sekitar 200 meter yang memiliki banyak lorong itu, dipenuhi dengan aneka rupa stalagtit dan stalagmit yang masih terpelihara dengan baik.

Daya pukau lain dari goa alam ini, di sejumlah bagian goa menempel fosil terumbu karang dan satwa penyu yang telah membatu yang menandakan bahwa goa ini merupakan bagian palung laut pada zaman lampau. Sedangkan penamaan Batu Cermin itu sendiri, barangkali diambil dari keberadaan sejumlah stalaktit dan staglamit yang memancarkan sinar berkilauan bak kristal jika tertimpa lampu senter.

Ternyata, Batu Cermin bukan satu-satunya goa alam mempesona yang dimiliki Manggarai Barat. Di luar itu, masih ada goa alam Batu Susun, Liang Dara dan Liang Rodak yang semuanya berlokasi di Kecamatan Komodo. Serupa dengan Batu Cermin, pesona keempat goa alam itu dijamin mampu menaut hati para wisatawan yang maniak menjelajah kedalaman perut bumi.

Salah satu potensi wisata Manggarai Barat yang juga layak dikedepankan adalah Danau Sano Nggoang yang berlokasi di Kecamatan Sano Nggoang. Danau yang tercipta akibat letusan gunung berapi ini (danau vulkanik-red) memiliki kadar belerang yang tinggi

Di samping memiliki panorama alam yang sangat indah, di tengah danau ini juga menyembul daratan yang tidak kalah indahnya dengan Pulau Samosir di Danau Toba. Kelebihan lainnya, kawasan danau ini juga dihuni berbagai jenis burung di mana beberapa di antaranya merupakan jenis burung migran dari Benua Australia. Sayang, perlu perjuangan berat bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Dana Sano Nggoang itu.
Buat rekan-rekan yang suka akan Petualangan dan berwisata…apalagi yang di tunggu?
GO TO EAST YOUNG MAN!!!


Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© Kraeng Adhy | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger